Saturday, January 13, 2007

KABAR TERAKHIR

Karam kata-kataku
Dalam galur-galur sepi
yang kau sodorkan

Ruang dan buku yang mengajar
Masa kecil kita
Sekarat di kawah-kawah zaman
Mati tanpa nama

Purworejo, 15 Nov 2006

PEREMPUAN DAN ANAK-ANAK ZAMAN

Kaukah perempuan itu
Berjalan dan membuat jalan
Dalam belantara airmata

Darah dan air susumu beriak
Menjadi penanda
Matinya anak-anak zaman

Purworejo, 3 Desember 2006

Wednesday, September 20, 2006

belajar mengingat

kepada seluruh waktu yang kulalui
kepada seluruh kisah yang aku buat
aku hanya belajar mengingat
pun sepatah
agar tak terulang lagi
luka yang tak semestinya

tentu saja
akan kuberikan
sebuah ruang khusus
sebagai sebuah kenangan

Monday, April 24, 2006

WAJAH YANG KAU LUKIS

wajah yang kau lukis itu, kekasih
tak pernah selesai aku baca

kematian-kematiannya betapa hidup
menghantui malam-malam rapuh
ruang bagi segala luka yang mulai melepuh

sudah pagi,
dan baru sepotong kisah
kusadap dari sepasang matanya

banyumas, 21 April 2006

Sunday, March 05, 2006

maret lagi

MARET LAGI
Malam-malamku pedang
Menguliti jiwa-jiwa sepi
Menunggu pagi
Dengan luka tak terobati

Pagiku airmata
Dari beribu kisah malam
Yang mendentam-dentam
Menunggu matahari
Mendekap kuyupnya

Purwokerto, 05.15, 4 maret 2006









MATAHARI

jaringlah matahari
Dengan semesta hatimu
Redam kobaran apinya
Dan hunjamkan di kepalamu

Pun luluh tubuhmu
Jangan biarkan padam
Sebab kebenaran harus ditemukan

Purwokerto, 5 Maret 2006
: jangan pernah berhenti berjuang!

Thursday, December 01, 2005

tentang IBU

MELUKIS WAJAH IBU

Aku melukis wajah ibu
Pada malam bergenang takbir
Tak ada warna
Segala sepi

Kuseka remah-remah luka
Memperjelas sketsa senyum dibibirnya

RSU DR.Sardjito, Jogja-1 Syawal 1426H
Bagi ibunda, Allohummaghfirlaha




MELUKIS WAJAH AYAH

Aku melukis wajah ayah
Ditepian hari
Meneguk sepi
Menghitung gurat-gurat perih
Di wajah ibu

Mereka bercengkerama
Dalam diam

November 2005

Saturday, October 29, 2005

RESENSI BUKU

HAK RAKYAT ATAS AIR

Judul : KEMELUT SUMBER DAYA AIR
Menggugat Privatisasi Air di Indonesia
Penulis : Tim KruHA
Penerbit : LAPERA PUSTAKA UTAMA , Yogyakarta
Tahun Terbit : Maret 2005
Tebal : 84 + xx halaman

Air adalah material vital, menjadi kebutuhan dasar untuk sebuah kelangsungan hidup di bumi.
Air adalah hak asasi bagi setiap manusia.
Sebuah petaka, jika air diperlakukan semata-mata sebagai barang ekonomi yang dapat diperdagangkan.

Seiring dengan berkembangnya industri air global, terjadi perubahan paradigma terhadap air. Semula, air adalah barang yang bernilai sosial, budaya, dan publik. Saat ini bergeser menjadi sesuatu yang bernilai komersil dan privat. Setidaknya, bagi pihak-pihak yang berkepentingan mendapatkan banyak keuntungan dari air, seperti korporasi-korporasi transnasional (TNCs) milik Negara-negara maju, yang tentu tak lepas dari lembaga-lembaga keuangan internasional (Bank Dunia, IMF, juga WTO).
Privatisasi jelas akan mengarah kepada rasionalisasi yang menjadi dasar dari a perfectly competitive economy . Dalam hal ini produsen akan berusaha untuk memaksimalkan keuntungannya, sedangkan konsumen akan memaksimalkan utilitasnya. Rasionalitas produsen jelas pengaruhnya, yaitu : produsen hanya akan menyediakan air bersih jika ada kemungkinan produsen untuk memperoleh keuntungan. (Hlm 72)
Rasionalitas semacam di atas mengakibatkan akses layanan air bersih yang menjadi hajat orang banyak itu akan semakin jauh dari penduduk miskin. Fakta menyebutkan bahwa cakupan pelayanan PDAM rata-rata secara nasional masih rendah. Rasionalitas yang sama juga akan berdampak pada penentuan tarif yang hanya memikirkan agar produsen memperoleh keuntungan. Di sisi lain, rasionalitas konsumen untuk memaksimalkan utilitasnya jelas sangat tidak mungkin tercapai , karena konsumen tidak punya pilihan lain terhadap air bersih. (Hlm 72).
Privatisasi dan komersialisasi berakibat hilangnya sifat asasi air. Hal ini akan membahayakan kepentingan dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Negara tidak lagi bisa menjamin hak rakyat dalam mendapatkan akses air bersih. Sebuah hak dasar yang jelas-jelas dijamin oleh UUD 1945 pasal 33 ayat (2) dan (3).
Kekhawatiran-kekhawatiran tadi semakin beralasan, ketika privatisasi dan komersialisasi mendapat ruang yang luas dalam UU Nomor 7 tahun 2004 tentang sumber Daya air.
Sebut saja pasal 7,8,9 dan 10 , sebagai instrumen Hak Guna, menjadi dasar alokasi dan penguasaan sumber-sumber air kepada swasta, dan bisa dikatakan menjiwai sebagian besar pasal-pasal dalam UU SDA. Hak Guna Pakai membatasi bentuk dan jumlah penggunaan air, sedangkan Hak Guna Usaha menjadikan peluang bagi swasta untuk menguasai sumber-sumber air yang menjadi milik bersama. Kurang lebih, pengaturan ini merupakan penjabaran dan prinsip komersialisasi air Bank Dunia dan ADB yang memiliki prinsip “ Water must be utilized by those who render the most economic advantage” atau “ air seharusnya digunakan oleh mereka yang memberikan keuntungan ekonomis lebih besar”. Konsep ini, nantinya akan mirip dengan ‘land rights’ atau hak sertifikasi tanah, namun lebih komplek.
Pasal 49 tentang ekspor air juga dapat menimbulkan disintegrasi. Jika pasal ini disahkan seperti draft tanpa penjelasan siapa yang akan menikmati uang hasil ekspor, maka akan muncul kecenderungan bagi Kabupaten dan kota yang berlimpah air dan punya potensi ekspor untuk lebih mengutamakan ekspor dibandingkan dengan air untuk kebutuhan pokok atau pertanian rakyat daerah Kabupaten atau kota yang lain. (Hlm 78)
Eksploitasi terhadap sumber daya air oleh swasta , melalui pelibatan dunia usaha dan perseorangan pada pola pengelolaan (pasal 11 ayat 3), pengembangan sistem penyediaan air minum (pasal 40 ayat 3), pemanfaatan awan dengan teknologi cuaca (pasal 38 ayat 2), penggunaan air laut di darat (pasal 39 ayat 2), pengusahaan air pada lokasi tertentu (pasal 45 ayat 4), dan pengembangan sistem irigasi (pasal 41 ayat 5) mempunyai implikasi yang sangat berbahaya. Dampak yang dapat terjadi adalah perusahaan swasta khususnya swasta asing akan mendikte pengelolaan sumber daya air seperti yang dilakukan oleh Duta Besar Inggris untuk Thames Water- sebenarnya adalah perusahaan yang dimiliki Jerman-saat Thames water di Jakarta mengalami kerugian. Duta Besar Inggris bisa mendikte pemda DKI untuk menaikkan tarif air minum agar Thames Water tidak rugi.
Keterlibatan Lembaga Keuangan Internasional
Kecenderungan untuk melakukan privatisasi air merupakan akibat dari globalisasi ekonomi yang tidak terlepas dari campur tangan Lembaga-lembaga Keuangan Internasional seperti bank dunia, IMF juga WTO, yang perannya sangat besar dalam membukakan jalan bagi perusahaan-perusahaan trans nasional tersebut untuk menguasai bisnis air di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Caranya adalah melalui kebijakan-kebijakan yang mereka ciptakan dan syarat-syarat (conditionalities) yang menyertai utang yang dipinjaminya. (hlm ix). Populer dengan prinsip-prinsip Whasington Consensus, seperti pengurangan subsidi, liberalisasi pasar, privatisasi dan dergulasi, menyebabkan akses masyarakat terhadap pelayanan public seperti kesehatan, pendidikan, air dan listrik menjadi berkurang.(hlm 1).
Di Indonesia, syarat-syarat tersebut ada dalam paket pinjaman program dari Bank Dunia untuk merestrukturisasi sector air di Indonesia, yaitu WATSAL (Water Resources Sector Structural Adjustment Loan). Dari WATSAL inilah maka restrukturisasi sumber daya air di Indonesia mengarah pada privatisasi . UU SDA yang telah disahkan merupakan salah satu syarat terpenting yang harus dipenuhi oleh pemerintah guna mendapat pencairan utang. (Hlm ix). Celaka, tampaknya Negara sudah sedemikan tidak berdayanya menghadapi tekanan-tekanan lembaga-lembaga internasional tersebut.
‘Kelangkaan dan ketimpangan’ air yang merupakan ekses dari sebuah skenario ekonomi global, adalah permasalahan bersama yang mendesak untuk segera disikapi. Kondisi tersebut pulalah yang melatarbelakangi Tim KRuHA (Koalisi rakyat untuk Hak Atas Air) menulis buku ini. Tidak berharap banyak, setidaknya dalam kondisi miskinnya publikasi dalam bahasa Indonesia mengenai keterlibatan Lembaga Keuangan Internasional dan Korporasi raksasa dalam ‘menjarah’ sumber daya air, buku ini dapat menjadi inspirasi bagi perjuangan mendapatkan hak rakyat atas air.
Buku Kemelut Sumber Daya Air ini, berusaha mengurai alur privatisasi air di Indonesia, dimulai dari keterlibatan lembaga keuangan internasional di sektor air (bab 2) sampai agenda pemerintah ‘menyukseskan’ kebijakan implementatif ala WATSAL. Beberapa isu krusial tentang air, seperti Water Right (Hak Guna Air), Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), PDAM, pasokan air dan harga /tarif air (Bab 4) diharapkan dapat memasifkan fakta tentang kemelut Sumber Daya Air di Indonesia, tentu saja untuk menemukan sebuah solusi.
Emil salim ,dalam pengantar buku ini, mengatakan bahwa buku ini adalah semacam “ lonceng bangun pagi’ (wake-up call) untuk mengingatkan kita bahwa ada kelemahan ekonomi pasar dan kekurangan perundang-undangan yang perlu dikoreksi agar kebijakan pembangunan kembali ke jalan lurus dan membawa cita-cita bangsa membumi pada hidup kenyataan.

khalwat

mungkin yang telah kulalui, belum juga menemukan bentuk. Bahkan saat ini, terlampau cepat jika aku berpikir telah menemukan manusia yang minimal mengetahui sedikit tentang aku. Terburu-buru jika aku mengatakan aku telah menemukan yang kucari. Bukankah menunggu itu indah dan misterius.
Aku bingung, aku gundah, aku resah.
Lalu yang bisa aku lakukan adalah menemuimu.
Berkhalwat denganmu;
Tentu tanpa kata, tanpa bicara, sebab yang kupunya tinggal hati dan sebait puisi
Yang utuh kusimpan dan kuserahkan kelak pada manusia
Yang mengenali dirinya sendiri!!!

“kelak akan lahir manusia yang pantas untukmu!”
bisik perempuan setengah dewa, yang tak merelakan keputus asaanku.
Aku tersenyum tawar; menekan nafas dalam, ke kedalaman hati. Lalu sepertinya semua gelap, disana-sini menghitam, aku kelu, tak bisa berkata-kata, sampai akhirnya kuputuskan saja untuk kembali ke masa lalu. Semoga tak lama, semoga sebentar, semoga tak terlalu mencintai masa lalu. Sekedarnya saja , cukupan, tak lebih.

Bumi, 9 februari 2005
: Pk. 14.30 Wib




bumi, 14 oktober 2005
pk. 13.00 Wib

bumi;
salah, jika kau akan tenang melewati waktumu
sebab setiap jengkal jiwa ragamu
akan kutaburi beribu bahkan berjuta tembang-tembang perjuangan
yang menjagaku dari keterlelapan
sebagai pencuri mimpiku

maafkan,
aku tak akan lelah apalagi kalah
mewujudkan cintaku

tertanda;
perempuan

Wednesday, October 12, 2005

metamorfosa


METAMORFOSA


Sama sekali bukan pengembara, aku hanya pekerja yang bergelut dengan rutinitas. Perjalanan sekedar alat, bukan tujuan . Sepantasnya, jika aku mengutuk saat ini. Bagaimana tidak; 2 minggu cuti kerja – musti kuhabiskan dalam perjalanan, mencari sesuatu yang absurd. Sebuah tempat yang asing, menemui orang yang asing. Berbekal selembar foto, sepucuk surat dengan alamat tanpa nomor telpon.
Aku beranjak dari tempat duduk; di ruang tunggu Agen Bus lintas Sumatera. Menggendong ransel dan tentu kamera kesayanganku. Suara kondektur memanggil para penumpang sesuai nomor urut tempat duduk , bersaing dengan deru mesin yang bising. Asap hitam terus berebut keluar dari knalpot. Ah, benar-benar tak masuk kualifikasi ‘sehat’, ekonomi dan tentu tanpa AC: aku mual !
Bapak paruh baya disebelahku, menghirup rokoknya dalam-dalam. Memproduksi asap dalam berbagai bentuk, kadang terbatuk-batuk, lalu bercerita tak henti-henti. Aku meraba foto di saku baju, ah tentu saja tidak, tidak seperti dia.

* * *
“Temui Ayahmu!”, dalam sekali suara Bunda. Episode yang tak kumengerti. Sesaat sebelum meninggalkan ruang baca, kau selalu mengatakan sesuatu yang membuatku terus berpikir. Ada saja, selalu. Wajahmu merapat- menatap lekat, lalu tinggalkan kecupan dikening. Aku menarik nafas dalam: AYAH ?
Aneh. Kenapa aku harus menemui Ayah. Setelah terpisah selama 20 tahun ?. sungguh aku telah biasa hidup tanpanya, sekali lagi tak masalah. Bunda, rumah sederhana, saudara-saudara Bunda yang tinggal berdekatan (mereka semua ilmuwan), cukup representatif menyelamatkan aku dari proyek pembodohan bernama sekolah.
“Karena Ayahmu juga punya kewajiban terhadapmu!”. Aku mengernyitkan kening, Bunda mencubit pipiku, berbisik”pakai uangmu dulu ya!”.
Aku melongo, mana bisa begitu?, menghabiskan uang tabungan untuk sesuatu yang aku sendiri tak mengerti?. Tahu kan berapa gaji seorang wartawan foto?. Bunda bergegas, menyambar jas labnya. Smart!, peneliti yang tak kenal lelah, beberapa minggu lalu Bunda mendapat penghargaan riset unggulan terpadu.

Merak-Bakaheuni, pagi sekali!
Dua jam nyebrang selat, dingin tanpa angin. Aku coba mengadu peruntungan; menunggu lumba-lumba menampakkan diri. Terus mencoba menikmati perjalanan, mengabadikan obyek-obyek menarik, tentu income tersendiri bagi seorang wartawan foto sepertiku. Dan membacamu Bunda, berangsur-angsur mengendorkan kembali tubuhku yang penat, memberikan energi yang luar biasa.
“Bunda yang menghendaki pisah, Ayahmu orang baik tapi tak tahu banyak tentang perempuan”.
“Berangkatlah, perjalanan adalah alamat yang musti kau baca”.
Kau selalu menghargai proses, itu yang buat aku semakin menjadi aku,aku dan aku . metamorfosa sempurna. Aku meraba saku, foto itu masih disana, aku semakin membacamu.

* * *
bulan penuh, tak beri sedikitpun ruang bagi kegelapan. Mengantar aku terus merindu mencari legenda pribadi. Sama sekali bukan pengembara, aku hanya pekerja yang bergelut dengan rutinitas. Perjalanan sekedar alat, bukan tujuan. Tapi sepertinya tidak untuk malam ini. Perjalanan beri aku alamat yang dasyat, menghubungkan satu tempat ke tempat lain, satu kisah ke kisah lain. Aku mulai membaui aroma cinta dan benci, damai dan perang, hitam dan putih, hafal!. Lalu terakumulasi menjadi rindu yang sepertinya tak tertahankan: aku membacanya.

dongeng sepi


ORANG-ORANG ASING

Mbah Simar menunduk, tangannya dingin, diletakkan begitu saja dipundakku. Menunggu apa yang akan dikatakan oleh Romo. Hening. Tangan Romo mengelus kepalaku, lalu menatap Mbah Simar,”Pergilah, jaga dia baik-baik. Kelak kita akan berkumpul lagi”.
Aku tak ingin berkata-kata, pun aku tahu, ini adalah sebuah perpisahan dengan orang yang begitu kucintai. Mungkin tak akan pernah ada pertemuan lagi, tapi biarlah wajah sepi ini yang selalu tersimpan di hati Romo. Biar bulir airmata yang belah kering wajahku, bercerita tentang segala cinta dikedalaman jiwaku. Tentang kenangan bocah yang utuh mencintai Romonya sebagai ayah sekaligus ibunya
Hari ini, hari ketika kutemui Romo dipenjara, adalah hari terakhir aku di tanah tercinta. Tanah yang menyimpan segala kisah dan perjuangan. Hari setelah beberapa waktu lalu kami menerima uang penggantian tanah’sepantasnya’ untuk bekal hidup, di tanah yang tak kami tahu sama sekali.
Hari setelah beberapa waktu lalu kami meminta doa dan maaf kepada saudara-saudara Romo, yang sangat mendukung kepergian kami, dan sempat menanyakan adakah kelebihan uang penggantian tanah. Sesungguhnya, kami ingin meminta bantuan saudara-saudara Romo agar dicarikan tanah dekat-dekat mereka, agar tak usah ikut transmigrasi. Tapi alih-alih mendapat bantuan , malah mendapat sumpah serapah : dinilai sebagai warga negara yang tak tau diuntung. Masih kata mereka, di luar jawa, kami akan mendapat tanah yang luas, akan lebih sejahtera. Mungkin karena mereka semua pegawai negeri, sehingga mendukung mati-matian program pemerintah. “ sebagai warga negara yang baik sudah semestinya berkorban untuk negara. Tanah kalian yang akan dijadikan waduk, tentu sangat bermanfaat bagi banyak orang. Pengorbanan kalian tidak akan sia-sia”, petuah bernada datar yang begitu tawar, kubiarkan berlalu begitu saja.
Juga hari ketika kami bercucur airmata, tanpa diperkenankan menoleh kepada sesuatu yang pernah kami miliki. Hari yang menjadikan kami sebagai orang-orang asing dimanapun kami berada.
* * *
Pilihan Romo untuk berkesenian secara total dan berbagi kepada orang-orang yang tak ‘berkelas’, adalah awal dari kecaman keluarga besar Romo yang berstatus ningrat. Saudara-saudara Romo, berusaha menutup semua akses Romo dari apapun milik keluarga. Eyang, yang aku tahu, masih sedikit menyisakan kasihnya. Tanah dan rumah yang kami tempati, diperkenankan menjadi milik kami. Itu saja, tak ada yang lain.
Dalam situasi seperti apapun Romo sangat tenang, bahkan saat-saat mengenang sebuah luka. Sekali-sekali, demi mengajariku tentang cinta dan kasih, Romo menceritakan begitu menderitanya Ibu ketika melahirkanku. “Sebelum meninggal, Ibumu menggodaku, kalau aku tak belajar mengatur emosiku-Ibumu mengancam mau jadi hantu”, Romo tersenyum kecil. Ya, tapi disudut matanya menggenang airmata yang siap tertumpah.
Mbah simar dan istrinya, aku memanggilnya simbok, yang mengasuhku dan mengurusi kebutuhan keseharian kami. Padepokan seni milik Romo, cukup banyak anggotanya. Dari buruh, petani, pengangguran, siapapun asalkan berniat untuk belajar kesenian bersama. Romo mengajari banyak tarian, tembang-tembang jawa juga bermain ketoprak.
Sepertinya juga, semua sudah mafhum dengan siklus kehidupan kesenian tradisional. Jika beruntung akan mengalami keemasan,tapi sebentar saja, tak akan lama. Sebagai tanda bahwa Tuhan menghargai usaha-usaha kaum tertindas. Setelah itu perlahan tapi pasti menuju kebangkrutan. Paling-paling yang dapat bertahan hidup, hanyalah kesenian-kesenian yang berorientasi jiwa, bukan profit. Perhitungan pahala, bukan uang. Dengan berkesenian, bukan harapan untuk kenyang tapi ketenangan jiwa dan bertambahnya iman.
Romo hanya mencoba melakukan hal itu. Mengisi celah-celah keletihan dan sedikit mengurangi beban kehidupan orang-orang desa dengan berkesenian. Tapi malang, stigma sebagai penyebar aliran sesat yang ia dapatkan. Lalu bisa apa aku, bocah ingusan ini.
* * *
Berada dimana dan apa nama sebuah tempat, menjadi tak penting bagi kami. Sebab kami adalah orang-orang asing dimanapun berada. Hanya beberapa kata kuingat, dari salah seorang pengawal- rombongan kami yang berbadan tegap, kekar dan berseragam,“kalian tak usah khawatir, ini tempat aman. Belum ada yang memiliki”.
Ritus yang kemudian mengisi hari-hari kami adalah membaca dan mempelajari tanda-tanda kehidupan. Memohon pada yang menguasai jagad raya, agar diberikan perlindungan. Mengubur kisah-kisah lalu yang bahkan menoleh padanya saja terlarang bagi kami. Melakukan yang bisa menumbuhkan cinta dan memulai kisah yang semoga tak membuat kami menjadi orang-orang asing.
Dan aku adalah satu dari sekian yang ingin mempunyai kisah baru, tapi sama sekali tak akan melupa kisah lama. Kisah yang menyimpan tokoh berarti dalam kehidupanku, yang tak henti-hentinya mengajariku bagaimana semestinya hidup, bagaimana semestinya tak menyalahkan situasi, bagaimana mencintai keindahan. Ya, keindahan.
Aku pengagum keindahan, aku gila padanya. Hanya itu yang semoga bisa menghiburku, di tanah yang menjadikanku sebagai orang asing. Bersama Romo, dulu, aku mencintai keindahan. Romo, terimakasih. Dirimu adalah keindahan yang selalu kusimpan di ruang-ruang jiwaku.
Air, tanah, langit, bagian-bagiannya selalu kukagumi. Aku selalumencarinya, mengejarnya. Air; pertemuannya, antara tawar dan asin adalah tempat yang banyak menyita waktuku, berlama-lama memandanginya dari jembatan yang belah udara diatasnya.
Bulan yang begitu kasmaran dengan matahari; tergesa muncul ketika senja belum utuh. Sedang matahari terus menggodanya dengan kemerahannya yang tak menyilaukan. Ya, jelang malam yang selalu kuingati.
Tanah-tanah yang nun jauh tampak menghijau sebab sesuatu yang tumbuh diatasnya, adalah kedirian yang bukan main-main. Hujan seperti apapun tak menggetarkannya, erat sekali, akar-akar tadi berpelukan dengan tanah;yang tak akan habis kekuatannya, kecuali jika salah satu mati. Aku mengejar keindahan dan tak akan pernah berhenti.
Aku membaui, menyentuh dan merasa setiap jengkal kehidupan baru. Pada pagi, sore dan malamnya; sepotong luka, sepotong nyeri dan remah-remah darah menjadi elegi yang kian lama menggetarkan jiwa. Menjadi sepasang mata yang kian tajam menusuk-nusuk kebisuanku. Sepasang mata dari sosok bercahaya , sesekali berkelebat dari celah dedaunan, yang dari waktu ke waktu memendam kebencian, amarah tiada tara.
Romo, siapa sesungguhnya dia. Kenapa dia selalu mengada dalam keberadaanku? Bagaimana aku bisa berbicara dengan sosok bermata tajam itu?. Samakah dia seperti kami, orang-orang asing di belantara Sumatera ini?
Tak usah gusar,Nak. Hati nurani tak pernah berdusta. Diam bukan berarti tak bicara, untuk didengar tak harus berteriak. Ceritakan apa yang ingin kau ceritakan pada pemilik mata itu. Kejujuran dan keikhlasanmu, semoga menjadi mata air yang meredam api membara di hatinya.
Terimakasih Romo, aku akan mencobanya. Aku memejamkan mata, manunggal pada keheningan jagad raya:
Saat ini, dan sejak kami terusir dari tanah milik kami.
Kami hanyalah orang-orang asing yang mengubur masa lalu dan begitu berhati-hati dengan masa yang akan datang. Kami sangat takut menyakiti sebab begitu paham rasa sakit. Katakanlah, bahwa kau bukan bagian yang menakutkan, yang tak sengaja tersakiti oleh kami.

* * *
Sungguh, setiap kali kupaksakan rasa dendam yang berdentam-dentam disepasang mataku untuk kalian, selalu tak bertahan lama. Aku rasakan hawa lain yang buat aku tak tahan, sehingga aku berlalu sambil terkikis sedikit demi sedikit kebencian itu. Aku berhemat, ini adalah alamat bahwa kalian bukan orang-orang yang membumi hanguskan tanah dan orang-orang tercintaku. Bibit kebencian yang mereka semai diantara kita, bukan apa-apa bagi nurani yang tak pernah berdusta. Merekalah orang-orang asing yang tersesat, sama sekali bukan kita.

Romo : panggilan untuk Ayah untuk kalangan priyayi (:bahasa jawa)

Purwokerto, September 2005
Bagimu sepasang mata di belantara Sumatera

sudut jiwa

AKU MENGEJAR KALIAN

Aku mengejar kalian
Bulan yang begitu kasmaran dengan matahari
Betapa nyala
Merajam malam

Aku mencari kalian
Sungai-sungai yang menyerahkan alir tubuh
Pada laut dan tarian maut
Obat bagi letih dan tawar perjalanan

Aku merindui kalian
Berakar-akar tetumbuhan
Bersetubuh- menyelusup erat
Pada kehitaman tanah
Kedirian yang bukan main-main
Tak tergetar oleh hujan seperti apapun

Aku menemukan kalian
Begitu jauh
Dalam prasasti mati
Dan lorong-lorong waktu
yang tertutup sama sekali


Purwokerto, 25 Mei 2005